{title}
   
 
  Beranda SKANESA
Info Utama
Artikel
Agenda
Buku Tamu
E-Mail Skanesa
Admin
 
 
   Link Penting
Kemendiknas
PPPPTK/VEDC Malang
ITS
Dikmenjur
Mojokertokota.go.id
Info Kerja Jatim
SMKN 2 MOJOKERTO
Statistik
     
User Online : 1
Visitor : 316112
IP anda : 54.163.61.66
Browser : unknown unknown
OS anda : unknown
   
Best Viewed with Internet Explorer 6, Mozilla Firefox 2 or latter at 1024 x 768 resolution
Untitled Document
 
 
Matematika Gaji dan Logika Sedekah
 


Matematika Gaji dan Logika Sedekah



Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang
biasa memanggilnya Mas Ajay. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya,
yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini.
Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang
diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di
dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai
bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena
penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak
seperti yang saya duga, Mas Ajay berasal dari keluarga yang pas-pasan.
Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya
dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya
pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar
informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu
sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami
masing-masing. Hampir tidak ada perb edaan mencolok. Kami sama-sama
bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang
membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajay adalah sikap
hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik
materi

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk
membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih
memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga
selesai SMA. Sering pula Mas Ajay menggenapi belanja kedua ibu
bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika
gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya
dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada
dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."

"Maksud Mas Ajay gimana, aku nggak ngerti?"

"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang
pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun
sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa
cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja
kurang."

"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiyakan.

"Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa
sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah
keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita
punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu.
Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"

"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.

"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah.
Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak
terduga."

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung
pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih
tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah
diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi
cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah.
Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi
puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis
itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita
memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu
menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat.
Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara
nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

Subhanallah! Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya.
Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang
hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang
berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang
telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi
tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa
masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui
pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajay seperti
ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk
mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya.
Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru
biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang
dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis
dengan dimensi sedekah itu?”.

“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi
sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan
keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga,
lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah
nilai qona’ah, ridha dan syukur”. Saya semakin tertegun.
Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya
habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajay. Terlalu kerdil
selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama
saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya
menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan
kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan
satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan
mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat
saya kumpulkan.

Sepulang berjamaah saya mem buka kembali Al-Qur'an. Telah beberapa
waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan
membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik
saya ingat Mas Ajay. Allah mengingatkan saya kembali:

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Terjemah QS.
Al-Baqarah [2] 261)

Sumber: Anonymous

http://beranigagal.blogspot.com/2012/07/matematika-gaji-dan-logika-sedekah.html

Copyright © 2011 - 2017 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Mojokerto
Isi Web oleh: SMK Negeri 1 Mojokerto
Desain dan Perawatan: ICT SMKN 1 KOTA MOJOKERTO